Sabtu, 27 Oktober 2012

Masihkah Engkau Mencintaiku?

jika hujan,rintiknya tak lagi mencumbu tanah

masihkah engkau cintai aku?


jika dasar tebing,tiada lagi curam

untuk menghempaskan jiwa

manusia-manusia patah hati,

masihkah engkau cintai aku?


jika negeri yang kata mereka kaya

tiada lagi ada yang kelaparan

masihkah engkau cintai aku?


jika akhirnya,dunia berdamai kepada perbedaan

masihkah engkau cintaiku?


cinta,terkadang terbentur relief realita


-Boyolali,2012-


Published with Blogger-droid v2.0.6

ironi

Senja kini usai mengibarkan malam
sesaat setelah surat,
mengabarkan kematian
toleransi yang tak lagi bernyawa,tulisnya
sepahit kopi pekat pembunuh penat
Keyakinan membuat sekat-sekat
Kita saling bertukar belati di ulu hati
Justru karena yakin Tuhan itu ada
kita,
Manusia



-Boyolali,2012-



Sabtu, 20 Oktober 2012

Laut

hidup telah tergaris melarat

suka duka melarut

melarung nafas ketepian

mendebur ombak kesunyian

masih berbekas tapak kaki di pasir pasir

sebelum lenyap terbawa air

selayang pandang ke batas pemisah

langit,laut,dan matahari

sungguh nikmat, diaeduh dengan luka hati

pada laut yang kutumpahkan resah

tempat singgah

ketika lelah


-Boyolali,2012


Published with Blogger-droid v2.0.6

Senin, 08 Oktober 2012

Hujan


Hujan datang lagi!
Hujan datang lagi!
Hujan datang lagi!
Nampaknya hujan berhasil melukis senyum di bibir mungil adik kecil
Berhasil memburamkan nalar bahwa ia juga menyimpan gigil
Adik kecil memeluk hujan dengan riang
Ia telah menunggunya sepanjang tahun
Menunggu rintik rintiknya membasahi kerontang detik

Ah...
Siapa yang tidak mencintai hujan?
Setiap mendungnya adalah layar bergambar kenangan
bagi penyendiri yang kehilangan riang
Ia lebih manis dari gula,
Jika dipadukan dengan secangkir kopi
dan dinikmati bersama kekasih
di bawah kanopi
Peluk kekasihmu juga menjadi lebih bernyawa
Jika hujan bersenggama dengan malam
Dingin yang bercampur angin
kemudian lahir gigil

Hujan lagi!
Hujan lagi!
Hujan lagi!
Kali ini hujan tak lagi berhasil meraut senyum adik kecil
Gemericik di atap rumah tak lagi menjadi irama abstrak yang syahdu
bahkan bagi kekasih yang tengah memadu rindu

Ah manusia
Selalu ada syukur untuk kehadiranku yang pertama
Sebelum ada serapah di rintik-rintik setelahnya,
Pikir hujan



-Semarang,2012-

Minggu, 07 Oktober 2012

Tukang Cuci

Tukang cuci mengetuk pintu kami pagi pagi

Di sini ia mengais rezeki

Tangannya terampil

Membasuh hingar bingar  semalam

Menjemur kering mengusir dendam

Noda noda meluntur

Nurani kami kian mengendur

Tukang cuci tidaklah sombong

Ia pergi dari pintu ke pintu

Lalu dan berlalu

Tanpa mengenang sebagai masa lalu


-Semarang,2012-


Published with Blogger-droid v2.0.6