Ibu menyuapi dengan tangan halusnya
ikan asin, pelengkap nasi hangat yang baru diangkat dari tungku batu
menyatu dalam suapan haru
sesekali senyum ibu mekar melihat tingkahku
namun beliau tak pandai berbohong
untuk menutupi takdir yang sombong
"ibu, kata mereka aku hari ini ulang tahun'' celotehku
kemudian ia mengecup keningku
"ibu tak mampu membeli lilin untuk engkau tiup"
air mata ibu berlinang
menggenang di kerut usianya
"namun ibu punya telah meminta Tuhan,agar ibu bisa melihatmu tumbuh setiap hari"
Pelukannya hangat menyadarkanku
Aku tak menginginkan ulang tahun lagi
aku ingin waktu berhenti
agar ibu slalu meyuapi ku
tanpa ada tahun-tahun berlalu
Semarang.2013
Sabtu, 19 Oktober 2013
Genduk
Janganlah terus meruntut kenangan, cah ayu
meski nampak bagai kunang kunang di lorong malam
yang membuat malamku benderang
percayalah
ialah yang membuatku berkubang hingga legam
dan mendustakan segala kilauan
rambut hitammu
Lihatlah kerikil kerikil ini
ku jumput mereka dari persimpangan kehidupan
aku takut
jika kerikil nyatanya menjadi gunung di pandangmu
maka angkuhnya memburai cerai lambung kapal
yang kita berdua rakit
untuk sampai ke dermaga yang kekal
Engkau permata dimataku
Namun permata tetaplah batu
Jika hatiku tak mampu melunakkanmu
paling tidak ijinkan aku menjadi cincin
yang melengkapimu,cah ayu
semarang,2013
meski nampak bagai kunang kunang di lorong malam
yang membuat malamku benderang
percayalah
ialah yang membuatku berkubang hingga legam
dan mendustakan segala kilauan
rambut hitammu
Lihatlah kerikil kerikil ini
ku jumput mereka dari persimpangan kehidupan
aku takut
jika kerikil nyatanya menjadi gunung di pandangmu
maka angkuhnya memburai cerai lambung kapal
yang kita berdua rakit
untuk sampai ke dermaga yang kekal
Engkau permata dimataku
Namun permata tetaplah batu
Jika hatiku tak mampu melunakkanmu
paling tidak ijinkan aku menjadi cincin
yang melengkapimu,cah ayu
semarang,2013
Rabu, 09 Oktober 2013
Musim Semi
Rinduku tersemai di musim semi
Jika engkau sudi datang kemari
Maka duduklah
Bukankah waktu selalu saja sombong
Ketika detik-detik,membuat jarak terlampau pelik
kulubangi dengan sabar
Hanya agar dapat mengintip kerut pipimu
Ketika engkau tersenyum
Apakah engkau tersemai
di musim semi ini,rinduku?
Aku lelah mengigil di lereng suar penantian
Ketika bahkan punggungmu tiada Nampak
Di lautan yang membawa engkau pergi
Jika engkau sudi kembali
Maka duduklah
Jangan pergi lagi, bersama musim semi
Semarang, 2013
Pelangi dan Engkau
Pelangi menggerutu kepada hujan
Ia sembunyi di tengkuk sabana
Siapa dia? Tanya ia kepada awan
yang memalingkan sayatan pandang
para jejaka
Pelangi menggerutu kepada penyair
Yang tiada menyiratkan kemegahan warna
Kedalam sajak sajak cinta
Siapa dia?tanya ia kepada pujangga
Yang mampu menjadi nyawa
Di setiap denting
rayuan rindu
Pelangi mengerutu kepadaku
Dipundakulah sendunya memburai
Siapa dia?tanyanya kepadaku
Ia adalah tempat
Dimana pelangi muncul
Tanpa hadir hujan di matanya
Ia adalah engkau
Kekasih
Semarang,10 Oktober 2013
Langganan:
Postingan (Atom)