*untuk sahabat kecil, Gloscindy
Yang ku ingat darimu
Kita kemasi amunisi
selongsong buku,
beberapa pensil juga raut
kami pejuang kecil
semangat enggan tuk surut
Senyum kita terus tumbuh
Menikmati semi nya ilmu
yang bertumbuh subur
dari derik derik kapur
jemari jemari yang tak Letih
ia Hartini, sang guru
Bukankah ini yang membuat rindu
sering kali menderu gebu
atas waktu yang angkuh melaju
berlalu bertumbuh haru
Jika ada sempat kan tersirat
andai kita saling merapat
adakah yang yang lebih indah
dari leburnya kenangan usang
menjadi riuh tawa yang membentang
hingga saat ku pandangi kepak mu
di pelupuk jauh katulistiwa
sahabat kecil yang kini melaju
Kita Pejuang kecil
Berlarilah
Hendak ku temui kau disana
Ketika perang tak lagi hardik
Di saat kita sama sama
menjadi berada
-Semarang, 2012
Senin, 30 April 2012
Sabtu, 28 April 2012
Buta
Dunia ini terlalu gegap gempita
Untuk ku lukis dengan lidah
Yang gagap oleh gulita
Ketidak kemampuan
Ketidak sempurnaan
Atau ketidak mauan
Aku
Kering yang gersang
-Boyolali,2012-
Untuk ku lukis dengan lidah
Yang gagap oleh gulita
Ketidak kemampuan
Ketidak sempurnaan
Atau ketidak mauan
Aku
Kering yang gersang
-Boyolali,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Raut Langit
Usai tertusuk terik
Senja jingga perlahan merapuh
Gelap mulai menggerayang
raut Rupa langit berganti
Aku berlalu
Terlelap rindu rindu
Juga letih letih berderu
Kemarilah
Kita akhiri ini
-Boyolali,2012-
Senja jingga perlahan merapuh
Gelap mulai menggerayang
raut Rupa langit berganti
Aku berlalu
Terlelap rindu rindu
Juga letih letih berderu
Kemarilah
Kita akhiri ini
-Boyolali,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Kamis, 26 April 2012
Pemuda
sempatlah timbul keluh
atas kerikil yang bertubi rajam
juga sumpah serapahku
untuk semua jalan yang meliku
karenanya aku sesat
aku hanya manusia
tak ada beda dengan lain
yang masihlah berkepala dua
egois yang mengkikis
persetan dengan kebutaanku
terjang menghadang
ada saatnya waktu
saat tumbuh sesal mengaru
aku berpulang
kau berpaling
-Semarang,2012-
atas kerikil yang bertubi rajam
juga sumpah serapahku
untuk semua jalan yang meliku
karenanya aku sesat
aku hanya manusia
tak ada beda dengan lain
yang masihlah berkepala dua
egois yang mengkikis
persetan dengan kebutaanku
terjang menghadang
ada saatnya waktu
saat tumbuh sesal mengaru
aku berpulang
kau berpaling
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Rabu, 25 April 2012
Aku Singgah, Kemudian Lari
seorang sebelum diriku
di tempat ini ia basuh peluh
meresapi ngilu ngilu pilu
juga senang yang berdendang
lemah luka lukamu
candaan beribu
lebur mereka nampak satu
aku bergegas
sebelum semak mulai ranggas
dan tak ada lagi harap bagiku
kedua kaki yang siap
tangan tanganku tanggap
masa depan mestinya kuraih
sebelum habis derap
kemudian menguap
-Semarang,2012-
di tempat ini ia basuh peluh
meresapi ngilu ngilu pilu
juga senang yang berdendang
lemah luka lukamu
candaan beribu
lebur mereka nampak satu
aku bergegas
sebelum semak mulai ranggas
dan tak ada lagi harap bagiku
kedua kaki yang siap
tangan tanganku tanggap
masa depan mestinya kuraih
sebelum habis derap
kemudian menguap
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Menggigil sepi
ini kelam sungguh sunyi
bunga tak menyemai
biola tanpa dawai
tiada takutku
pada sepi yang mengharu
kepadanya aku melacur
kemolekan masa lalu
yang mungkin rembulan jemu
kepadanya ku lebur jiwa gundah
kepadanya keluh kesahku
daun daun berderik
angin sesekali berbisik
ini kelam sungguh sunyi
-Semarang,2012-
bunga tak menyemai
biola tanpa dawai
tiada takutku
pada sepi yang mengharu
kepadanya aku melacur
kemolekan masa lalu
yang mungkin rembulan jemu
kepadanya ku lebur jiwa gundah
kepadanya keluh kesahku
daun daun berderik
angin sesekali berbisik
ini kelam sungguh sunyi
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
25 april
hantarkan aku kesana
ke ladang yang penuh sesak
kenang tak sudi layu
kayu melapuk
angin semilir getir
yang merindu
kamu
3 tahun lalu,tepat hari ini
jiwa ku berkeluh,mati rasa
untuk pertama kali
ku rangkai cinta cinta
ku kalungkan ia di jiwamu
getar raga ku kentara
gugup aku padamu
hanya salahku,
aku tak mengalungkannya
demikian erat
hingga ia datang,
dan kalungkan jua padamu
aku memudar
setelah itu tiada pijar
-Semarang,2012-
ke ladang yang penuh sesak
kenang tak sudi layu
kayu melapuk
angin semilir getir
yang merindu
kamu
3 tahun lalu,tepat hari ini
jiwa ku berkeluh,mati rasa
untuk pertama kali
ku rangkai cinta cinta
ku kalungkan ia di jiwamu
getar raga ku kentara
gugup aku padamu
hanya salahku,
aku tak mengalungkannya
demikian erat
hingga ia datang,
dan kalungkan jua padamu
aku memudar
setelah itu tiada pijar
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Senin, 23 April 2012
Tuak
canda dalam sendawa
tuak tertenggak
kami tak rasakan melaju
luruh meluruh
mengaliri getir nadir
Kami lupa Tuhan
Terus teguk lah
kita nyaris sampai
pelipir damai,angin semilir
Tak lagi nalar tersirat
gelombang tiada seimbang
kami lupa Tuhan
-Semarang,2012-
tuak tertenggak
kami tak rasakan melaju
luruh meluruh
mengaliri getir nadir
Kami lupa Tuhan
Terus teguk lah
kita nyaris sampai
pelipir damai,angin semilir
Tak lagi nalar tersirat
gelombang tiada seimbang
kami lupa Tuhan
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Minggu, 22 April 2012
Sepenggal Sapa
Aku tak jua melebur
bahkan malam kian larut
kularung lamun ke gelap nan lapang
aku terjaga di dalam ilusi
yang terus menuntunku berpuisi
tentangmu
tentang luka yang terus bersemi
ini kesekian kali ku bersajak
kuperlihatkan ketidakmampuanku
bersahabat dengan mulut juga lidah
untuk sekedar bertutur, layangkan sapa
rangkaian kata tak pernah terbentang
hanya harap yang mampu ku semai
kepadamu, seseorang yang berlalu
-Semarang,2012-
bahkan malam kian larut
kularung lamun ke gelap nan lapang
aku terjaga di dalam ilusi
yang terus menuntunku berpuisi
tentangmu
tentang luka yang terus bersemi
ini kesekian kali ku bersajak
kuperlihatkan ketidakmampuanku
bersahabat dengan mulut juga lidah
untuk sekedar bertutur, layangkan sapa
rangkaian kata tak pernah terbentang
hanya harap yang mampu ku semai
kepadamu, seseorang yang berlalu
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Peluklah Aku, Sekali Lagi
*untuk ibunda di surga
Tanya yang kulayangkan padamu
di sela doa yang mengucur
sampaikah ia di genderangmu?
hasrat yang tak hancur tergerus
sekedar kita bertukar cerita
tentang pelajaran hidup, tentang cinta yang tak redup
sekedar menikmati amarahmu
aku pembangkang yang terkasih
Ini terlambat,
Air mata yang angkuh untuk bercucur karna mu
sudilah ia basahi namamu
samar menghilang di nisan yang melapuk
di sanalah kenangan kita bertumpuk
di sana jua seluruh alur alur paragraf
tak mungkin lagi berlanjut
tanya yang ku layangkan padamu
tak perlu lagi engkau dengar
hanya ketahuilah ,ibuku
peluklah aku, sekali lagi
hanya ku ingin lihat senyummu
ketika ku tumbuh dengan waktu
-Semarang,2012-
Tanya yang kulayangkan padamu
di sela doa yang mengucur
sampaikah ia di genderangmu?
hasrat yang tak hancur tergerus
sekedar kita bertukar cerita
tentang pelajaran hidup, tentang cinta yang tak redup
sekedar menikmati amarahmu
aku pembangkang yang terkasih
Ini terlambat,
Air mata yang angkuh untuk bercucur karna mu
sudilah ia basahi namamu
samar menghilang di nisan yang melapuk
di sanalah kenangan kita bertumpuk
di sana jua seluruh alur alur paragraf
tak mungkin lagi berlanjut
tanya yang ku layangkan padamu
tak perlu lagi engkau dengar
hanya ketahuilah ,ibuku
peluklah aku, sekali lagi
hanya ku ingin lihat senyummu
ketika ku tumbuh dengan waktu
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Beberapa Sajak Mawar
**
ada beberapa rangkai bunga
Seragam warna seragam semerbak
di tiap untai terkandung pesona
kelopak demi kelopak ia himpit susun
indahlah ia
bukan semata wujud atau rupa
ada yang lebih penting
kebersamaan
**
ia kuncup yang enggan merekah
semestinya ia seharum mereka yang lain
merah merona,mekar menggoda
Menjamu kumbang kumbang terpesona
atau bersolek di terik siang
tidak,
ia kuncup yang enggan merekah
ia kuncup yang urung berkembang
adakah haram menjadi diri sendiri?
adakah indah memaksa diri?
ia kuncup yang pasti merekah
pada waktunya
**
petiklah aku tuan
petiklah satu
sampaikan aku pada ia yang kau tuju
tempat rindu rindu meruntuh
ia yang tercermin dalam senyum simpul
ia yang menggoda lamunan
cintailah ia
dengan kesederhanaan
karna kelak benci berganti mekar
seiring cinta yang melayu kering
layaknya kisah-kisah kasih
sebelum kamu
-Semarang,2012-
ada beberapa rangkai bunga
Seragam warna seragam semerbak
di tiap untai terkandung pesona
kelopak demi kelopak ia himpit susun
indahlah ia
bukan semata wujud atau rupa
ada yang lebih penting
kebersamaan
**
ia kuncup yang enggan merekah
semestinya ia seharum mereka yang lain
merah merona,mekar menggoda
Menjamu kumbang kumbang terpesona
atau bersolek di terik siang
tidak,
ia kuncup yang enggan merekah
ia kuncup yang urung berkembang
adakah haram menjadi diri sendiri?
adakah indah memaksa diri?
ia kuncup yang pasti merekah
pada waktunya
**
petiklah aku tuan
petiklah satu
sampaikan aku pada ia yang kau tuju
tempat rindu rindu meruntuh
ia yang tercermin dalam senyum simpul
ia yang menggoda lamunan
cintailah ia
dengan kesederhanaan
karna kelak benci berganti mekar
seiring cinta yang melayu kering
layaknya kisah-kisah kasih
sebelum kamu
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Menawar Maut
Ini pelataranMu
tempat jiwa jiwa termenung
dalam hening menunggu
siksa atas lumuran dosa
atau tenang
atas menggunungny amal
Harga yang harus terbayar
dari lalai yang beruntun
Aku terbalut takut yang akut
Aku yang lalai
mendekat rapat siksamu
disana aku terkulai
Datanglah kapan saja
wahai maut yang merenggut
datang lah kapan saja
di saat aku tak lagi memiliki rasa
datanglah
-Semarang,2012-
tempat jiwa jiwa termenung
dalam hening menunggu
siksa atas lumuran dosa
atau tenang
atas menggunungny amal
Harga yang harus terbayar
dari lalai yang beruntun
Aku terbalut takut yang akut
Aku yang lalai
mendekat rapat siksamu
disana aku terkulai
Datanglah kapan saja
wahai maut yang merenggut
datang lah kapan saja
di saat aku tak lagi memiliki rasa
datanglah
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Aku ingin Berlanjut
Ada kabut yang tak sudi menipis
sekian kali menyamarkan duri
aku urung bertahan
namun aku tak cukup tekat untuk melaju
Beberapa luka kembali menganga
memaku kaki untuk tak berlari
mereka telah sampai
kepada tujuan si keping keping
dari mimpi indah semalam
yang terajut rapi
dari buih buih harapan
yang terseduh hangat
dari benih benih harapan
aku ingin melaju
aku ingin berlanjut
layaknya mereka
-Boyolali,2012-
Sabtu, 21 April 2012
Harusnya ini Tahun ke 3 Kita
Kapal ini tak
berjangkar
Sengaja aku buang
ia ke dasar
Ku putus tali
temalinya
Ku dayung tak
akan kembali
Jemari meraut
kenang kebersamaan kta
Kesederhanaan dan
kasih
Paling tidak kau
cukup lama
Yakinkan diri
berteduh di pelukku
Angin enggan
memaksa hempas layarku
Ombak pun senyap
tak sudi berhanyut
Kapal yang ku
susun dari sisa sisa semangat
Sedikit demi
sedikit ku kais
Kemudian rekatlah
mereka pada tekat
Yang belum
sepenuhnya habis engkau renggut
Aku tak yakin kau
ingat
Mungkin ia pesiar
terlalu menyilau mata
Untuk sekedar
menengok kapalku
Bimbang dan
nyaris karam
Ya peluk lah
ia..bahagialah
Sesukamu
Aku hanyalah sisa
sisa
Dari yang sia sia
-Boyolali,2012-
Sampah Jalanan
Aku tak pernah
bercengkerama dengan keluh
Bagiku ia
hanyalah gerombolan sia sia
Menggerogoti
perlahan lahan nalar
Memang kadang aku
tak terlalu akur
dengan perutku
yang seringkali menggerutu
menyesalah ia
bersama ku
Kecewalah ia
Lapar yang selalu
mengencingi
Tak ada hal lain
yang ku ingin
Selain esok yang
membaik
Dimana aku tak
perlu memacu
mengganjal lapar
yang bergemuruh
sederhananya
aku ingin
seperti mereka
mereka yang tak
inginkanku
-Boyolali,2012-
Tegur yang Bergugur
aku gugur dalam acuh
kepada perkasanya angkuh
aku tak lagi lihai, lidah mengelu
harusnya kita tetap bertukar sapa
bahkan ketika kasih tiada
-Boyolali,2012-
kepada perkasanya angkuh
aku tak lagi lihai, lidah mengelu
harusnya kita tetap bertukar sapa
bahkan ketika kasih tiada
-Boyolali,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Kamis, 19 April 2012
Menyadur Tidur
Merebah di atas belati
Setengah matanya menghujam nyeri
Kuletak kan letih
Seharian aku panggul ia
Mengitari beberapa belulang
Yang mungkin ialah rusuk
Tempat pijar rasa tak lelah merasuk
Ku pukul lagi kapas kapas
Ku hantarkan ia harap
Melunaklah pintaku
Setidaknya kusinggahkan rasa padamu
Sembunyi sembari umpati sepi
Hantarkan aku wahai kapas kapas
Kepada ia bunga tidur
-Semarang, 2012-
Setengah matanya menghujam nyeri
Kuletak kan letih
Seharian aku panggul ia
Mengitari beberapa belulang
Yang mungkin ialah rusuk
Tempat pijar rasa tak lelah merasuk
Ku pukul lagi kapas kapas
Ku hantarkan ia harap
Melunaklah pintaku
Setidaknya kusinggahkan rasa padamu
Sembunyi sembari umpati sepi
Hantarkan aku wahai kapas kapas
Kepada ia bunga tidur
-Semarang, 2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Rabu, 18 April 2012
Lukisan Tuhan
Terdengar samar samar
Ranting ranting yang berdenting
di sela daun sedemikian ranum
ada alunan setengah nada
dari kicaunya burung
bukanlah komposisi yang sumbang
lebih kepada alam yang seimbang
Inilah anugerah
tentang syukur di setiap hembus angin
Senyum yang tak segan mengembang
dari lingkar bibir bunga bunga taman
mudahlah Ia mencipta
Namun mampukah kita
menjaga?
-Semarang,2012-
Ranting ranting yang berdenting
di sela daun sedemikian ranum
ada alunan setengah nada
dari kicaunya burung
bukanlah komposisi yang sumbang
lebih kepada alam yang seimbang
Inilah anugerah
tentang syukur di setiap hembus angin
Senyum yang tak segan mengembang
dari lingkar bibir bunga bunga taman
mudahlah Ia mencipta
Namun mampukah kita
menjaga?
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Jumat, 13 April 2012
Khianat
Ku ketuk ia semesta
Semata agar kata sampai di genderangnya
Tentang pilunya hati atas khianat
Layaknya bintang yang enggan
Bersanding dengan rembulan
Ini terlalu lekat
luka yang kau patri
adakah sempat bagiku
untuk menghardik ketiadaanmu?
atau kah ku ilalang
yang tertinggal hujan
dan ranggas merenggang
nyawa
-Semarang,2012-
Semata agar kata sampai di genderangnya
Tentang pilunya hati atas khianat
Layaknya bintang yang enggan
Bersanding dengan rembulan
Ini terlalu lekat
luka yang kau patri
adakah sempat bagiku
untuk menghardik ketiadaanmu?
atau kah ku ilalang
yang tertinggal hujan
dan ranggas merenggang
nyawa
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Tentara Tentara
kami untai harap di setiap derap
pagi,terik,hingga malam yang bergantian menjamu
ini mesiu,ia lah kekasih
yang kami hujamkan
ke ulu hati mereka
jika Tuhan ada di samping kami
lalu untuk siapa
mereka merangkai doa?
tak ada lagi esok
pikir kami
kalaupun ia bersudi hadir
ia hadir dengan sekelam - kelamnya sesal
bunga tidur yang anyir
seanyir mayat
yang pasti tak sudi tersayat
-Semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4
Selasa, 10 April 2012
Kawan Juang
ini kebersamaan kita
baringkanlah sejenak pada belukar
di padang yang tak lagi terik
ketika senja memeluk barat
hingga sendu tak lagi tersirat
itu peluhmu
yang menari mengucur
di lekuk tebing tebing kening
ku seka dengan seriang riangnya canda
semata agar sejenak sakit mau menepi
hingga senyum simpul tak malu malu muncul
kaki kita sudah cukup jauh melangkah
sedikit melepuh tergerus arah
atau aral yang tiada bosan menghujam
tidak kah kita tumbuh segan?
kepada kaki kita
tidak kah hal ini normal?
di mana diri ingin berhenti
sekedar untuk merapikan
larik larik nafas
Kita berhenti di belukar
diantara semak semak kekar
menatap matahari
yang mulai letih berpijar
ku undang kantuk
ke pelupuk mata
lelaplah bersama senyap
karena esok kaki kan kembali
menantang hari
baringkanlah sejenak pada belukar
di padang yang tak lagi terik
ketika senja memeluk barat
hingga sendu tak lagi tersirat
itu peluhmu
yang menari mengucur
di lekuk tebing tebing kening
ku seka dengan seriang riangnya canda
semata agar sejenak sakit mau menepi
hingga senyum simpul tak malu malu muncul
kaki kita sudah cukup jauh melangkah
sedikit melepuh tergerus arah
atau aral yang tiada bosan menghujam
tidak kah kita tumbuh segan?
kepada kaki kita
tidak kah hal ini normal?
di mana diri ingin berhenti
sekedar untuk merapikan
larik larik nafas
Kita berhenti di belukar
diantara semak semak kekar
menatap matahari
yang mulai letih berpijar
ku undang kantuk
ke pelupuk mata
lelaplah bersama senyap
karena esok kaki kan kembali
menantang hari
Published with Blogger-droid v2.0.4
-Semarang,2012-
Sabtu, 07 April 2012
Sebatang Pohon
Adalah sebatang pohon
yang tak terlalu kokoh
bahkan untuk kita berdua berteduh
memadu kasih
atau hanya untuk mengukir
dua nama di ketiaknya
Adalah sebatang pohon
yang masih saja sudi
tumbuhkan helai helai daun
di tengah terik yang bertubi tubi
di padang kering juga ranggas
di mana cinta tak mungkin bertumbuh
ruam luka yang hampir hampir melepuh
Adalah sebatang pohon
yang tak menghardik datangnya mereka
burung burung congkak
mematuk setiap harap dan asa
di helai daun yang ia perjuangkan
Adalah sebatang pohon
Tak ada hal lain di relung angannya
selain rindu nya terhadap hujan
yang nyata - nyata khianat kepadanya
dengan awan lah ia langkah
sisanya hanya semaraknya gersang
Adalah ssebatang pohon
Ia tak lagi menunggu
Ia mengilu
mati
-Boyolali, 2012-
yang tak terlalu kokoh
bahkan untuk kita berdua berteduh
memadu kasih
atau hanya untuk mengukir
dua nama di ketiaknya
Adalah sebatang pohon
yang masih saja sudi
tumbuhkan helai helai daun
di tengah terik yang bertubi tubi
di padang kering juga ranggas
di mana cinta tak mungkin bertumbuh
ruam luka yang hampir hampir melepuh
Adalah sebatang pohon
yang tak menghardik datangnya mereka
burung burung congkak
mematuk setiap harap dan asa
di helai daun yang ia perjuangkan
Adalah sebatang pohon
Tak ada hal lain di relung angannya
selain rindu nya terhadap hujan
yang nyata - nyata khianat kepadanya
dengan awan lah ia langkah
sisanya hanya semaraknya gersang
Adalah ssebatang pohon
Ia tak lagi menunggu
Ia mengilu
mati
-Boyolali, 2012-
menenun Langkah II
Selangkah demi selangkah
sesekali ku layangkan pandang
ke semua penjuru angin
adakah kau yang berlalu
nampak samar di seberang
harapan yang karang
yang nyata - nyata
telah ku genggam demikian erat
yang terus saja ku basuh
meskipun telah basah
darah yang enggan kering
Teruslah berjalan hardikku
namun kaki seketika menampar
dengan pilu pilu yang berkelakar
ia tak lagi hormat
atau aku terlalu memaksa
untuk selalu kuat
Aku bisa saja mengakhirinya disini
Kutuntun saja para tangan
hujami keringnya kerongkongan
dengan pisau pisau yang berputus asa
Mau tak mau
Haruslah aku bertemu
Kepada ia
ia yang mungkin adalah air
yang beriringan tak beraturan dalam untaian hujan
atau ia lah jam
yang menghentak di setiap detak
ahhh persetan..
cepat cepatlah bertemu
kepada ia
yang kuingginkan sesuap kecup
yang kubutuhkan
untuk mengisi jiwa yang mengering
karena kenangan yang berkepanjangan
Cepatlah
-Boyolali, 2012-
-Boyolali, 2012-
Langganan:
Postingan (Atom)