Hujan datang lagi!
Hujan datang lagi!
Hujan datang lagi!
Nampaknya hujan berhasil melukis senyum di bibir mungil adik kecil
Berhasil memburamkan nalar bahwa ia juga menyimpan gigil
Adik kecil memeluk hujan dengan riang
Ia telah menunggunya sepanjang tahun
Menunggu rintik rintiknya membasahi kerontang detik
Ah...
Siapa yang tidak mencintai hujan?
Setiap mendungnya adalah layar bergambar kenangan
bagi penyendiri yang kehilangan riang
Ia lebih manis dari gula,
Jika dipadukan dengan secangkir kopi
dan dinikmati bersama kekasih
di bawah kanopi
Peluk kekasihmu juga menjadi lebih bernyawa
Jika hujan bersenggama dengan malam
Dingin yang bercampur angin
kemudian lahir gigil
Hujan lagi!
Hujan lagi!
Hujan lagi!
Kali ini hujan tak lagi berhasil meraut senyum adik kecil
Gemericik di atap rumah tak lagi menjadi irama abstrak yang syahdu
bahkan bagi kekasih yang tengah memadu rindu
Ah manusia
Selalu ada syukur untuk kehadiranku yang pertama
Sebelum ada serapah di rintik-rintik setelahnya,
Pikir hujan
-Semarang,2012-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar