Selasa, 28 Agustus 2012

Bersahabat Dengan Malam

Layaknya engkau
Akupun tak benar benar bersahabat dengan malam
Iri sempat tertabur dalam tiap pandangan
yang ku hunus beberapa kali kepada mereka
bersenggama dengan malam
mengecupi mesra dingin dan gigil
bersulang dengan arak setenggak

Kita adalah pelarian
dari siang yang membenci kita
Sedang malam
tak sempatkan waktu membasuh luka,
lalu kapan?
jemari memetik dawai tawa?


-Boyolali,2012-

Minggu, 19 Agustus 2012

Hujan

ada kala pertayaan memyeruak

"kemana air mata mengalir?"


"jika engkau merelakannya,ia mengalir lurus di lesung pipimu, mengalir diantara padas di gersang hati, dan bermuara pada kenangan.

Lalu menguaplah ia menuju awan

kemudian turun sebagai hujan bahagia

dan pelangi itu,

senyum lepasmu"


-kediri,2012-


Published with Blogger-droid v2.0.6

Jumat, 17 Agustus 2012

Nenek

setiap hari

setiap pagi

Ia beradu lantang dengan raungan jago

ia beradu terang dengan cahaya timur

untuk kesekian kali,

ia menang


suaranya lantang yang menggelegar

mencambuki kami tiap pagi

terpaksa mimpi tak kami habiskan

sisanya kuselipkan di ingatan


Tetaplah ia tegar

meski kerut kerut nya sejajar

siang ia bergelut dengan diri sendiri

senggalan nafas renta

kaki kaki yang mulai merasa

tak lama lagi

mereka tak kuasa

namun untuk kesekian kali,

ia menang

yang kita bisa lihat

dari semangat yang patut dikenang


-Kediri,2012-


Published with Blogger-droid v2.0.6

Surya Gerhana

Engkau matahari

aku rembulan

mampuku hanya memantulkan

terik terik kebahagiaan


engkau matahari

aku rembulan

sejauh langkah mengejar

di ujung katulistiwa

cepat cepat engkau karam


engkau matahari

aku rembulan

aku hanyalah kesendirian

dalam gelap penuh cekam


-Kediri,2012-


Published with Blogger-droid v2.0.6

Kedua

     :untuk keponakanku yang belum bernama


Seperti hujan setelah kering semusim

seperti indah subuh

sehabis cekam semalam

engkau yang kini mungil

terbaring berselimut senyum

yang memang Penciptamu titipkan

untuk kado ibumu

untuk hadiah ayahmu

atau juga anugerah bagi kami

dunia sejenak haru


mungil tangan yang kini engkau miliki

mana mampu menggenggam dunia

mana sanggup menghantam seisi samudera

Namun Ia bukan Tuhan yang kikir

hadirmu,bahagia tak lelah terukir


kelak,

jika engkau cukup mampu tuk melihat,

nikmatilah semilir angin

kicau burung di halaman belakang

gemericik air sungai seberang

atau ranum mekar bunga taman

bersahabatlah dengan mereka

bergurau bersenandung

agar kelak jika waktu memaksamu dewasa

engkau tak menjadi perusak,

seperti pendahulu berhati sesak


tumbuhlah seiring dengan waktu

menangislah keras tak kenal takut

selamat datang,

selamat bersenang senang


-Malang,2012-


Published with Blogger-droid v2.0.6

Selasa, 14 Agustus 2012

Gulir Semusim

Demi Waktu
Bergulir tiada jemu
Tiada yang lebih menyejukan
Di masa penghujan
Selain derai gemericik
Gerimis tawa lepasmu

Tiada yang lebih benderang
Di hangatnya kemarau
Selain terik senyum simpul
Yang teruntai lugu
Di bibirmu

Published with Blogger-droid v2.0.6

Tembok

Ini terlalu kokoh
Padahal akhirnya aku yang menikmati sendiri
Jika raut wajahmu sebagai batu batanya
Maka kerinduanku adalah perekat
Ku ikat tanpa sekat

Tembok ini ku susun sendiri
Memperangkap aku
Dengan kokohnya nyeri
Tiap detailnya bercerita
Bahkan kadang lahir cerca
Keputus asaanku
Dan kepergianmu

-Kediri,2012-

Published with Blogger-droid v2.0.6

Sepi

aku tak tau
apa yang menjadi desas desus
antara malam dengan semilir angin
antara daun kering dengan gemerincing ranting
maukah kalian mengajak serta 
aku,
yang telah mengakrab dengan sepi
agar sesekali bertumbuh kata 
di lidah yang lama tak berlari
ingin aku mengenal malam
agar aku tak lagi mati dalam sunyi


-Kediri, 2012-


Jumat, 10 Agustus 2012

Aku Simpan di Tiap Relung


Aku sulut sebatang rokok di kamar ini. 
Yang mungkin akan keluar murka mu jika seandainya engkau tiba – tiba masuk, entah ingin menengok apakah aku telah terlelap, bercanda dengan mimpi – mimpi kecilku, atau sekedar mengusap dahi dan melempar sekecup cium untukku malam ini

Aku hisap sesekali
sambil membuka kembali album album lama penuh debu ini
lembar demi lembar ada cerita pendek perlahan beralun lirih menggoda kenangan di lubuk terdalam untuk menari nari bersamanya, 
menyelami masa lalu
mengarungi siluet siluet yang kini aku rindu

Ingatanku hinggap di ranting dahan
yang dedaunanya bergambar engkau sedah marah besar ketika aku beribu kali membangkang juga mengacuhkan tutur serta nasehatmu
juga ketika aku menangis sejadi  - jadinya, saat mereka menertawaiku, saat aku tak tau apa itu tegar
pelukmu adalah singgahku

Ibu,
Tak pernah aku benar  - benar membuat engkau menangis bahagia
tak bernah aku benar benar membuat engkau berucap kepada mereka,"Itulah anakku"
Sebongkah senyum simpulmu
gelegar gelegar amarahmu
derai derai airmata kecewa
juga alunan tiap suara dan tawa
jika engkau berkenan,
ingin aku gantung di relung - relung
agar bergemerincing riuh
menyemangatiku disaat datang keluh

Kemarilah,
andai ada sedikit waktu melepas surgaNya
jangan engkau, 
kali ini aku yang memelukmu
menciumimu penuh haru
hingga habis segala rindu



-Kediri,2012-


Minggu, 05 Agustus 2012

Sajak Pendek Serumpun Kata #4

Yang tersisa hanyalah gegar
dari segala debar yang engkau tebar,
dahulu


-Semarang,2012-

Sajak Pendek Serumpun Kata #3

Ingin lekas aku kenakan dilekukmu
Ini gaun tak selesai rajut
dari helai demi helai
cerita yang berurut
kemudian berhenti
ketika engkau enggan menepi



-Semarang,2012-

Sajak Pendek Serumpun Kata #2

Tertumbuh rasa takut
Pada suatu masa
aku tak lagi bersajak
Karya tak lagi menyerebak
terkulai kalah telak
mati sebelum mati



-Semarang,2012-

Sajak Pendek Serumpun Kata #1

Masih ada setumpuk harap
untukmu
kalau suatu saat engkau sudi
untuk menyusun derap
agar aku kembali dekap

-Semarang,2012-