Selasa, 27 Maret 2012

Menenun Langkah

Lihat seksama
ia yang ada di ujung jalan
merajam halang yang lalu hadang
merajut mimpi berapi api


Dia ambil beberapa langkah
dipungutnya ia segenggam remah
serasa cukup untuk sekali jalan
menyusun hasta demi hasta
setapak jalan yang tak selalu lapang
menguntai kata kata
merayu nasib agar sedikit ramah

ku pandang ia
sang semangat yang urung surut
bukanlah surya yang ia kejar
yang tak lelah segemerlapnya pijar
ataupun anggun rembulan
tawarkan hangat temaram malam

aku tak pernah tau
kapan ia memilih untuk singgah
ketika bertemu hati
yang tiada jemu menunggu
atau saat semangat
segan menderu menggebu
atau mungkin
ketika kaki kaki
enggan lagi melaju
aku
ia
tak pernah tau

-semarang,2012-

Published with Blogger-droid v2.0.4

Wanita Seberang Jalan

Kutambatkan pandang
pelan senyap  kudekap
semata agar sadar tak hinggap
dia yang menyebar pukau
menyilaukan
ruang ruang hati yang kedap

Adakah ia?
yang menawan di seberang jalan
menjadi pelabuhan singgah
tempat membasuh luka lalu
atau letih yang mengilu

Ataukah ia,
hanyalah segenggam semu
dari hati yang terlalu lama jemu

-semarang,2012-

Published with Blogger-droid v2.0.4

Senin, 26 Maret 2012

Layar

Adakah tumbuh harap?
bila kepak ku nyatanya tak terbangkanmu
 layar yang tak bimbing engkau
 secerah cerahnya impian



adakah yang salah?
apakah aku tak mampu
 ataukah kamu yang tak mau
 gelisah tak ijinkan ku tau
 sebuah pertanda
 untuk kisah yang tak mampu langkah



aku dayung keras arungi nasib
 ku tenggak harap untuk tumbuhkan
 secuil semangat
 sampan ini masih membawa serta
 ragamu
 ke dermaga yang ingin ku singgah
 di sanalah pemberhentian
 segala langkah



adakah yang ku mampu?
 jika nyatanya sampanku
 tak cukup lapang untuk hasratmu
 lalu datanglah ia sang pesiar
 merayu dengan semegahnya sinar

aku tetap harus ke dermaga ku
dan membawa ribuan kenang
 cinta yang tak lekang



-semarang,2012-
Published with Blogger-droid v2.0.4

Sabtu, 24 Maret 2012

Setengah perjalanan

naiklah ke pelanaku
yang kurajut dengan gelisah 

tentang mimpi yang mematri kenang
tentang berpalingnya engkau
ke cinta yang lebih lapang



naiklah ke pelanaku
yang nyatanya tak berikan 

sesimpul senyum di bibirmu
dan perasaan tak lebih layak dari kekang
lekang tercecer di jalan yang panjang



ku panggul bawaan kita
beberapa gundah, dan sekarung benci
yang harusnya ku buang jauh 

namun ego lah yang memaksa untuk memungut


pergilah
sebelum muak menyeruak
sebelum kasih menguap
menjadi perih



naiklah ke pelana nya
ketika hatimu
benar benar tak lagi singgah



-Semarang,2012-




Published with Blogger-droid v2.0.4

Malaikat yang Biasa Dipanggil Ibu

Adakah tempat lain
yang pantas kami sebut rumah
selain pangkuannya
Tempat bercucur tangis
Tempat berurai tawa

Seringkali dia seduh hangat kasih
dan kami teguk sesekali
lebih dari cukup
untuk sekedar membasahi keringnya riak
yang setiap saat berteriak menantang nasib
atau lebih dari sekedar mengusir jauh letih
dari hujam hujan hujatan

kami tahu sekarang
bahwa hidup menuntut juang
dan kami pun juga tahu
Dentum detik di mana dia berjuang
hanya agar kami merasakan 
apa itu hidup

Teruslah tersenyum
Dia yang kami ingin peluk
meski tak pernah letih meletihkanmu,
namuno kami mohon
teruslah mengajari kami
tentang apa itu hidup


*tribute to bu larso

-Semarang,2012-

Ruam rindu yang Terlalu Akut

ku panggil lirih kenangan
tak sampai detik singgah
ku mampu tatap kerlingannya
ku ajak ia
sebutlah kenang, rindu,atau apa lah
ke ruang pengap nan temaram
aku tak mencumbunya kali ini
hanya sekedar teman
merangkai keping keping cinta
yang telah karam


jika dia adalah semu
maka aku terlalu nikmat berendam kenangan
yang nyata nyata hanya hamparan garam penyedap
luka
dan nyata aku terlalu akrab dengan gelap
tuli akan persuasi persuasi positif
nalar yang kian pasif
kian rapuh tergerus terus menerus
oleh rindu yang terlalu masiv
kau tahu?
tidak tidak
kupikir kau tak akan tahu
rindu ini terlalu akut
laaknya kemarau yang parau
ataupun hujan yang mengujam


-Semarang, 2012-


Published with Blogger-droid v2.0.4

Sulitnya Terlelap Sama Sulitnya Dengan melupakanmu

ini karna lelap ingkar datang hingga
penghujung malam
mata tak mampu mengunus
bahkan untuk jalan yang jelas lurus
bagaimana ku melaju
jika hanya ranjang yang kurindu


**


lemah ku urai harap
yang lalu berkeping keping
meretas pening
ia yang bernama kantuk
di ia lah ku baringkan harap
untuk bertemu denganmu
wahai bunga tidur


**


semestinya ku arungi semesta pagi ini
berpeluh peluh rangkak
berpuluh puluh hasta
namun lekuk ranjang ini terlalu nikmat
ah tak apalah sekali waktu ku
bercumbu dengan kantuk lebih lama


-Semarang,2012-


Published with Blogger-droid v2.0.4