sesekali ku layangkan pandang
ke semua penjuru angin
adakah kau yang berlalu
nampak samar di seberang
harapan yang karang
yang nyata - nyata
telah ku genggam demikian erat
yang terus saja ku basuh
meskipun telah basah
darah yang enggan kering
Teruslah berjalan hardikku
namun kaki seketika menampar
dengan pilu pilu yang berkelakar
ia tak lagi hormat
atau aku terlalu memaksa
untuk selalu kuat
Aku bisa saja mengakhirinya disini
Kutuntun saja para tangan
hujami keringnya kerongkongan
dengan pisau pisau yang berputus asa
Mau tak mau
Haruslah aku bertemu
Kepada ia
ia yang mungkin adalah air
yang beriringan tak beraturan dalam untaian hujan
atau ia lah jam
yang menghentak di setiap detak
ahhh persetan..
cepat cepatlah bertemu
kepada ia
yang kuingginkan sesuap kecup
yang kubutuhkan
untuk mengisi jiwa yang mengering
karena kenangan yang berkepanjangan
Cepatlah
-Boyolali, 2012-
-Boyolali, 2012-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar