Layaknya engkau
Akupun tak benar benar bersahabat dengan malam
Iri sempat tertabur dalam tiap pandangan
yang ku hunus beberapa kali kepada mereka
bersenggama dengan malam
mengecupi mesra dingin dan gigil
bersulang dengan arak setenggak
Kita adalah pelarian
dari siang yang membenci kita
Sedang malam
tak sempatkan waktu membasuh luka,
lalu kapan?
jemari memetik dawai tawa?
-Boyolali,2012-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar