Senin, 10 September 2012

Tungku Dapur

Tiap pagi,
Ibu memulai hari
bersahabat dengan api
setengah mentari di pelupuk pagi
kemasi kantukmu nak,katanya berbisik
mencumbu hari lebih awal
sebelum pagi ranggas terbakar terik

Aroma bawang selesai rajam
kepada dada dan sayap pisau menghujam
sedikit garam dan cuka
yang kadang terpakai untuk menggarami luka

Semua berakhir di meja makan
di sana, semua bumbu tadi berubah menjadi harapan
dan doa serta syukur sebagai kudapan
aku cium keriput di telapak tangan ibu
harapan harapan dari tungku dapur
kujadikan semangat tiada  hancur



-Semarang,2012-





Tidak ada komentar:

Posting Komentar